Sungguh ironis, harta karun musik Indonesia yang melimpah ruah sejak
dekade 50-an justru diabaikan atau tepatnya disia-siakan oleh pemiliknya
sendiri: Siapa lagi kalau bukan kita bangsa Indonesia?
Dokumentasi dalam bentuk rekaman maupun tulisan tak pernah ditemukan
dalam bentuk yang lebih fokus, semisal berada dalam sebuah wadah yang
namanya Museum Musik. Kenyataannya benda-benda bersejarah musik
Indonesia selama ini hanya bersemayam di rumah-rumah milik para
kolektor. Kondisi yang sangat miris.
Data-data industri musik
Indonesia mulai era 50an hingga sekarang amat sulit untuk dilacak.
Kepedulian malah datang dari bangsa lain. Ambil contoh misalnya tentang
buku katalog musik Indonesia yang justru ditulis oleh orang asing
bernama Hans Pokora, orang Austria yang menulis buku bertajuk Record Collector Dream.
Buku
yang dianggap kitab suci bagi para kolektor musik, terutama piringan
hitam dan kaset itu dibuat berseri dengan memuat berbagai album bergenre
prog-rock folk, psychedelic rock, hingga world music. Selain itu,
memasukkan juga beberapa album musik Indonesia di katalognya, antara
lain Ariesta Birawa, Harry Roesli, Koes Bersaudara, Dara Puspita, hingga
Guruh Gipsy.
Sejak terbitnya buku ini kegairahan para kolektor
vinyl (piringan hitam) dari seantero jagad untuk berburu album-album
yang tertuang dalam buku karya Hans Pokora itu kian menjadi-jadi. Bahkan
sebuah label kecil di Jerman, Shadoks Music dengan berani merilis
ulang album-album itu dalam bentuk CD dan vinyl tanpa izin dari
komposer, pemusik serta label Indonesia. Keenan Nasution, drummer dan
vokalis Guruh Gipsy lalu mengirim e-mail ke pihak Shadoks untuk
menghentikan aksi barbariannya itu.
Beberapa waktu silam saya
sempat dihubungi oleh Alan Bishop, pemilik Sublime Frequencies, label
kecil dari Seattle Amerika Serikat yang telah merilis ulang album-album
Koes Bersaudara, Koes Plus hingga Dara Puspita. Alan Bishop meminta
saya dan sahabat saya David Tarigan, sosok penggiat rekaman indie yang
juga peduli terhadap data back catalogue untuk menulis buku Katalog
tentang musik Indonesia secara ensiklopedik.
Termasuk pula Jason “Mosh” Connoy, seorang kolektor dan pemilik label
Strawberry Rain dari Kanada yang beritikad sama dengan Alan Bishop
yaitu ingin membuat semacam buku katalog musik Indonesia terutama
band-band pop maupun rock di era 60an hingga 70an.
Sebetulnya,
itikad yang dicuatkan oleh Alan Bishop maupun Jason “Mosh” Connoy telah
saya lakukan beberapa tahun sebelumnya dalam bentuk penulisan buku.
Niat itu berangkat dari keprihatinan akan minimnya data-data industri
musik di negeri ini.
Lalu bersama Komunitas Pecinta Musik
Indonesia, saya menulis dan menjadi editor buku bertajuk “Musisiku”
(2007) yang memuat sekita 40 biografi artis dan band Indonesia dari era
50an hingga 80an. Isi buku ini merupakan bunga rampai yang diambil
dari rubrik berkala tentang musik Indonesia pada harian Republika.
Di
tahun yang sama saya diminta Musica Studio’s untuk membuat semacam
scrapbook untuk kemasan 21 album Chrisye dalam bentuk boxset bertajuk
Masterpiece Chrisye. Di scrapbook itu saya menulis review serta behind
the scene dari penggarapan album-album Chrisye dari tahun 1978 hingga
2004.
Saya juga menulis buku perjalanan karir Keenan Nasution
dalam albumnya di tahun 2007 berjudul Apa Yang Telah Kau Buat. Di tahun
2008 saya mendapat pesanan dari Kementrian Pemuda dan Olahrga yang
saat itu masih dijabat oleh Adhiyaksa Dault untuk menuliskan riwayat
perjalanan musik pop Indonesia yang berlangsung pada komunitas musik
Pegangsaan.
Di era 60an hingga 70an Pegangsaan merupakan tempat
ngumpul berbagai pemusik, aktor dan seniman yang pada akhirnya
menetaskan sosok-sosok mumpuni dalam dunia seni seperti Guruh Soekarno
Putera, Chrisye, Keenan Nasution, Eros Djarot, Achmad Albar, Christine
Hakim, termasuk pemusik senior saat itu Mus Mualim dan Idris Sardi.
Sayangnya buku yang bertajuk Jejak-Jejak Musikal di Pegangsaan itu
belum juga diedarkan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga. Entah kenapa.
Sekarang
ini saya tengah menyelesaikan beberapa buku tentang musik yang
bersifat ensiklopedik dan historikal antara lain Ensiklopop Indonesia,
Dheg Dheg Plas – Perjalanan Musik Koes Plus dan 50 Tahun Rock di
Indonesia.
Penulisan buku musik yang bertumpu pada sisi historik
memang bukan hal yang mudah, terutama riset data yang cukup panjang
dan melelahkan. Saya sendiri berprinsip tak mau gegabah dalam
menuliskan data, mulai dari data sosok artis, data rekaman dan
peristiwa-peristiwa musik yang pernah terjadi di Indonesia.
Contoh
yang paling ekstrem adalah sejak era vinyl di awal dasawarsa 50-an,
terutama sejak berdirinya label seperti Irama dan Lokananta, hampir tak
pernah dicantumkan tahun rilis dan publisher sebuah album rekaman. Ini
tentunya sangat menyulitkan untuk membuat buku yang berbentuk katalog
apalagi ensiklopedi. Data-data personel dalam sebuah produksi rekaman
pun sangat kurang bahkan tak ada dalam sampul albumnya.
Akhirnya
beberapa alternatif jalan keluar berusaha saya dapatkan antara lain
dengan meriset sejumlah media cetak hiburan yang terbit pada era itu.
Dan lagi-lagi hal ini juga bukan pekerjaan yang mudah. Untunglah
kerabat saya yang banyak berkutat dalam koleksi meng oleksi musik baik
dalam bentuk kaset dan piringan hitam serta sejumlah majalah ikut
banyak membantu. Tapi penggarapan buku pun menjadi tersendat-sendat.
Buku Ensiklopop Indonesia saja telah melewati masa penggarapan hampir 3
tahun lamanya.
Tapi the show must go on. Saya tetap merasa
tercambuk untuk mewujudkan buku-buku sejarah musik Indonesia. Apalagi
setiap berkunjung ke beberapa toko buku di Jakarta, hati dan jiwa saya
selalu menggelegak manakala melihat tumpukan buku-buku referensi musik
manacanegara yang silih berganti terbit dan terbit. Mereka pun menulis
buku-buku itu secara komprehensif plus data-data historikal yang runut,
detail dan akurat. Mereka tampaknya telah menyadari pentingnya arti
sejarah atau dokumentasi dalam setiap sudut kehidupan.
Saya
akhirnya mengeluh dan mengeluh tentang perilaku bangsa kita yang
ceroboh dan tidak menghargai pentingnya sejarah dan dokumentasi. Saya
pun mengangguk tentang akronim yang kerap dikoar-koarkan Presiden RI
pertama Ir. Soekarno: JAS MERAH, JAngan Sekali-sekali MElupakan
sejaRAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar